• SEJARAH SUBANG

    Seperti halnya daerah lain, wilayah Subang juga telah mengalami berbagai fase sejarah yang unik. Bebagai fase sejarah yang telah dilalui tersebut telah membentuk wajah Subang saat ini...

  • PESONA SUBANG

    Pesona daerah Ciater, Subang, Jawa Barat bukan hanya pemandian air panasnya saja. Keindahan panorama lereng Gunung Tangkuban Perahu menambah daya tarik wisatawan untuk datang ke tempat ini. Menanti munculnya sang fajar adalah waktu yang sangat tepat Anda berkunjung ke sini...

  • MUSEUM WISMA KARYA

    Ulang tahun Subang baru saja berlalu begitu saja, dan tak banyak orang yang tahu catatan sejarah mengapa tanggal itu dijadikan hari lahir kota ini. Padahal, tepat di pusat kota ini, di titik paling strategis di kota ini, hal itu dapat ditelusuri...

  • WONDERFUL SUBANG

    Subang, sebuah kota unik di pesisir utara pulau jawa. Kota ini memiliki landscape yang lengkap mulai deretan pegunungan di sebelah selatan, dataran rendah di tengah dan hamparan pantai di utara jawa (Pantura) di tambah denga kekayaan flora dan fauna yang menakjubkan. Beragam seni budaya yang dimilikinya menjadikan Subang kota yang memilki potensi pariwisata yang besar untuk berkembang...

Berlibur dengan Suasana Pedesaan Subang

www.desawisata-saribunihayu.com

Mungkin berlibur di dalam kota sudah bukan barang baru, bahkan Anda sudah merasa bosan dengan suasana kota. Ada baiknya jika Anda menghabiskan waktu libur dengan mengunjungi objek wisata alam maupun suasana pedesaan. Salah satu objek wisata yang manawarkan suasana pedesaan, yakni Desa Wisata Sari Bunihayu di Kabupaten Subang.

Photobucket

Untuk mencapai ke desa wisata ini cukup mudah. Dari Kota Bandung, Anda bisa menggunakan kendaraan umum antarkota Bandung-Subang. Di sepanjang perjalanan Anda akan menikmati suasana pegunungan, mulai dari kawasan Lembang sampai pertigaan Gunung Tangkubanperahu. Setelah itu, suasana perkebunan teh akan menjadi pelengkap perjalanan Anda.

Setelah menemukan Jalan Cagak, tinggal belok ke kiri ke arah Subang yang dipenuhi dengan kebun nanas. Anda kemudian belok kiri setelah menemukan papan nama Desa Wisata Sari Bunihayu. Tidak kurang dari satu km, Anda akan menemukan kawasan desa yang bernuansa asri.

Sepintas, kawasan desa tersebut pantas disebut desa wisata. Selain suasana pedesaan yang masih dipertahankan, juga terlihat dari bentuk fisik bangunan rumah masyarakatnya yang masih mempertahankan suasana kampung Sunda. Selain itu, terdapat juga sejumlah guess house yang dibuat menyerupai bangunan di pedesaan, termasuk bale sawala, pendopo serta panggung hiburan.

Suasana alamnya pun masih terlihat asri. Di sebelah timur penuh dengan kebun awi, sebelah selatan berdiri bukit yang asri, sebelah timur melintas Sungai Cileuleuy, dan sebelah utara terhampar persawahan yang siap dijadikan arena wisata desa. Kesemua alam pedesaan ini membuat pikiran Anda jadi tenang dan tenteram.

Walaupun dikelola pihak swasta, namun ternyata objek wisata ini menjanjikan ketenangan suasana pedesaan. Desa Sari Bunihayu memang menjanjikan suasana tenang dan asri pedesaan. Sekalipun di lokasi tersebut sudah dibangun beberapa vila dan kolam renang, termasuk kolam pemancingan. Namun lokasi ini masih mempertahankan tradisi masyarakat Desa Bunihayu dalam mengolah hasil bumi.

Begitu Anda memasuki kawasan desa wisata ini, Anda akan dibageakeun musik tradisional toleat yang menjadi musik khas Kabupaten Subang. Selain itu, akan ditemani pula dengan satu gelas bandrek minuman penghangat serta beberapa gorengan dan penganan khas Subang.

Selain itu, Anda pun akan diajak untuk menyaksikan anak-anak Desa Sari Bunihayu belajar menari dan melihat berbagai kesenian tradisional lainnya. Oleh pengelolanya, anak-anak desa yang berlatih kesenian tradisional ini dijadikan atraksi wisata untuk menghibur wisatawan.

Menurut pengakuan pemilik Desa Wisata Sari Bunihayu, H. Herman Mulyana, didirikannya desa wisata tersebut estuning nyaah kasarakan Sunda (karena rasa cinta pada tanah air Sunda), yang saat ini banyak yang menjadi kompleks perumahan dan mal. Tidak hanya lingkungan pedesaan yang berubah, tetapi juga masalah budayanya yang tergerus budaya modern. Banyak masyarakat desa di Jabar yang meninggalkan budayanya dan memilih budaya modern sebagai bagian dari gaya hidup.

Di lokasi ini, pengunjung bukan hanya disuguhi atraksi kesenian tradisional dan hanya bisa melihat warga desa tengah menggarap sawahnya maupun kebun serta memperbaiki selokan yang rusak. Para pengunjung juga ditawari untuk bergabung dengan warga desa atau petani untuk menggarap sawah, mulai dari nandur, ngawuluku, ngabuat (membajak sawah, menanam padi, menuai padi sampai panen).

Rupanya proses kerja para petani dalam menggarap sawah dijadikan andalan desa wisata ini bagi para wisatawan. Selain menggarap sawah, juga tata cara berkebun dan memanen tanaman umbi-umbian (ketela pohon dan ubi jalar). “Maklum, biasanya para wisatawan banyak yang tidak mengetahui tata cara menanam padi, berkebun sampai memanennya,” ungkap H. Herman saat berbincang dengan “GM”, beberapa waktu lalu.

Selain tanaman padi, di objek wisata ini pun pengunjung bisa memetik buah-buahan segar langsung dari pohonnya. Pasalnya, di lokasi ini ditanami berbagai tanaman buah-buahan asli daerah Jawa Barat maupun buah-buahan asli dari daerah lainnya. Menurut Herman, hampir semua tanaman buah dari berbagai daerah Indonesia bisa tumbuh subur, salah satunya adalah tanaman buah matoa dari Irian (Papua). Tak hanya itu, salah satu tanaman langka, yakni buah samolo, juga tumbuh subur di sana. Sayang, kedua buah langka itu sedang tidak berbuah, hanya yang terlihat bunga-bunganya tengah mekar.

“Kedua tanaman ini memang tumbuh buahnya tidak mengenal musim. Sayang kedua pohon ini sudah dipanen oleh para wisatawan yang datang lebih awal,” kata H. Herman.Kita lewatkan saja kedua buah langka tersebut, Anda masih bisa memetik buah-buahan lainnya, seperti durian, lengkeng, rambutan rapiah, gandaria, pisang, nanas, dan jambu yang tengah berbuah. Buah-buahan tersebut sesudah dipetik bisa langsung dimakan di tempat atau dibawa pulang sekadar untuk oleh-oleh. Tentunya mesti ditimbang dulu warga desa yang bertindak sebagai penjaga kebun. Selain buah-buahan, Anda juga bisa menikmati makanan khas ala pedesaan, seperti ubi rebus, singkong, jagung bakar maupun ikan bakar yang memang banyak tersedia di sana.

Jika belum puas, Anda bisa merebus ubi, singkong atau membakar ikan dan jagung sendiri (self service), tergantung selera. Hal itu memang sengaja diberikan pengelola untuk kepuasan para pengunjung. Bahkan pengelola pun menyuguhkan berbagai atraksi kesenian tradisi Kabupaten Subang maupun kabupaten lainnya di Jabar.

Unik memang. Pasalnya, seluruh masyarakat Desa Sari Bunihayu dilibatkan sebagai menjaga kebun sekaligus sebagai guide. Tak heran jika berlibur di sana, Anda sudah termasuk masyarakat desa dengan segudang aktivitasnya. Mengenai penginapan, Anda tidak perlu bingung karena pengelola telah menyiapkan sejumlah vila maupun bungalo dengan tarif bervariatif.

Tetapi alangkah disayangkan, pengunjung tidak bisa menginap di rumah-rumah milik warga setempat. Padahal, kalau pengunjung diberi kesempatan tidur di rumah warga, dipastikan ada seperti ikatan batin antara pengunjung dengan warga. Jika tertarik, Anda bisa mengunjungi Desa Wisata Sari Bunihayu setiap akhir pekan.

Ririmbunan pepohonan dan hijaunya duan teh serta kuningnya buah nanas sudah menanti Anda. Tak hanya itu, deretan tukang ojek pun siap meramaikan kedatangan Anda sekeluarga. Tetapi yang pasti, Anda jangan senang dulu. Pasalnya, dibutuhkan stamina dan dana cukup untuk bisa berlibur di Desa Wisata Bunihayu. Karena keterlibatan Anda dan keluarga bersama warga sekitar dibutuhkan stamina yang cukup. Sedangkan untuk masalah dana, harus dipersiapkan jika Anda ingin membawa oleh-oleh khas dari Desa Bunihayu.(desawisata.com)

DALAM peristiwa the battle of Java Sea 27 Februari 1942 antara pasukan sekutu pimpinan Laksamana KWFM Karel Doorman dan Belanda kalah dari pasukan Jepang. Pasukan sekutu dengan flagship-nya De Ruyter kalah oleh pasukan Jepang yang dipersenjatai Long Launch Terpedo yang berjarak jangkau 40/km dengan kecepatan 35 km/jam dan meluncur tanpa jejak di air.

Dalam pertempuran laut Jawa ini, sejumlah besar orang Indonesia terutama yang bertugas di kapal perang Belanda mengalami nasib nahas. Di kapal De Ruyter saja ada 108 orang Indonesia yang menjadi korban, 74 di antaranya tewas di tempat. Meski rata-rata kedudukan mereka tidak lebih tinggi dari inheemse matros, stoker atau sekadar sebagai inheemse jongen.

Historis kekalahan demi kekalahan Belanda dengan sekutunya (Amerika, Inggris, dan Australia), hingga menyeret Belanda ke meja perundingan di Kalijati, Subang, Jawa Barat, 8 Maret 1942, menjadi salah satu bagian cerita yang dipaparkan Kapten Penerbang, Sodikin, Penanggung Jawab Rumah Sejarah dan Museum Amerta Dirgantara Mandala Suryadarma, Kalijati, Kab. Subang, Jawa Barat, kepada 130 orang peserta Ekspedisi Situs dan Bangunan Cagar Budaya, yang diselenggarakan Balai Kepurbakalaan, Nilai Tradisi dan Sejarah Jawa Barat.

"Hal ini merupakan kesempatan sangat langka dan jarang didapat dari buku sejarah sekalipun. Di sini, benda-benda koleksi museum mampu menguatkan cerita yang disampaikan dan kita seakan dibawa dan turut merasakan peristiwa heroik," ujar Dra. Romlah, Kepala Seksi Pelestarian Balai Kepurbakalaan, Nilai Tradisi dan Sejarah Jawa Barat.

Jawa Barat, seperti halnya daerah-daerah lain yang menjadi pusat pergerakan kemerdekaan Indonesia, menjadi tempat yang sangat menarik untuk melakukan wisata sejarah maupun budaya. Tidak hanya mengunjungi bangunan-bangunan tua bernilai sejarah, tetapi juga lokasi temuan benda-benda prasejarah.

Salah satunya adalah Rumah Sejarah dan Museum Amerta Dirgantara Mandala Suryadarma, Kalijati, Kab. Subang, Jawa Barat, di mana selain menyaksikan langsung pesawat-pesawat yang pernah digunakan untuk bertempur pasukan Jepang dan kemudian digunakan para pejuang bangsa ini, kita juga disuguhi berbagai cerita heroik pertempuran. Semisal, pesawat L-4J Piper Cub yang pernah digunakan untuk operasi menumpas DI/TII di Jawa Barat, yang hingga kini masih terawat dengan baik.

Pesawat jenis ini pula yang digunakan pasukan Jepang Letnan Jenderal Hithoshi Imamura, untuk membumihanguskan Kota Bandung, sebelum Hein Terporten akhirnya menandatangani penyerahan Belanda atas Jepang di Kalijati 9 Maret 1942. Selain peswat L-4J Viper Cub, juga terdapat pesawat Viper Cherokee buatan Amerika yang selama masa kemerdekaan menjadi sarana transportasi, pesawat latih PZL Glatik dan PVA.

Masih di kawasan Kalijati, Subang, wisata sejarah juga dapat diteruskan dengan mengunjungi bunker-bunker maupun parit tempat pertempuran. Juga Rumah Sejarah, yang menjadi saksi bisu penyerahan kekuasaan Belanda yang telah menjajah Indonesia selama 350 tahun kepada Jepang, 8 Maret 1942. Rumah Sejarah awalnya dibangun tahun 1917 untuk rumah dinas perwira Staf Sekolah Penerbang Hindia Belanda di PU Kalijati. Guna mengenangnya sebagai tempat bersejarah, pada 21 Juli 1986 atas inisiatif Komandan Lanud Kalijati saat itu, Letnan Kolonel Pnb Ali BZE meresmikannya sebagai museum dengan nama "Rumah Sejarah".

Saat menjejaki kaki di teras rumah, kita dihadapkan pada tonggak dari semen beton bertuliskan huruf kanji. "Ini merupakan kata sandi yang hingga kini belum dapat diungkap maknanya. Kemungkinan besar ini adalah kata kunci yang disampaikan oleh Imamura. Bahkan mantan Gyugun maupun Kalijati Kai (perkumpulan mantan prajurit yang pernah bertugas di Kalijati), juga belum dapat mengungkap rangkaian kalimat tersebut.

Memasuki ruang samping, kita akan disuguhi diorama dan foto-foto yang berkenaan dengan pertempuran yang terjadi di Lapangan Udara Kalijati. Diawali dengan mendaratnya pasukan tentara Jepang ke Eretan Wetan dipimpin Kolonel Shoji dan merangsek masuk ke Subang melakukan pertempuran dengan pasukan Sekutu, hingga dapat direbutnya Lapangan Udara Kalijati.

Selain itu, juga dipampang tulisan menyerahnya pemerintahan Belanda kepada Jepang dan dialog Panglima Imamura dengan Gubernur Jenderal Belanda serta Panglima Ter Porten. Terdapat pula foto bersama pejabat kedua negara setelah/sebelum perundingan dan foto bangunan lama di PU Kalijati. Pada sisi kanan terdapat lukisan menggambarkan tiga lokasi pendaratan pasukan Jepang ke Indonesia.

Di ruang tengah, tempat perundingan terdapat meja persegi panjang dengan delapan kursi kuno beserta kain penutup bercorak kotak-kotak hitam putih. Di depan tiap kursi terdapat nama para pejabat Belanda dan Jepang saat melakukan perundingan. Pada sisi kanan kirinya terdapat dua bendera kedua bangsa dan pada tembok menempel lukisan suatu momen perundingan.

Pada kamar kedua terdapat rak buku-buku, album foto, dan radio kuno. Di sampingnya terdapat papan foto-foto sejarah mengenai kondisi Sekolah Penerbang Belanda dan mes para penerbang dan kru pesawat di PU Kalijati. Terdapat juga foto kondisi PU Kalijati, PU Husein Sastranegara Bandung, PU Semarang, dan PU Cililitan di Jakarta. Di samping itu, ada foto-foto pesawat tempur Jepang dan aktivitas tentara Jepang.

Di kamar ketiga terdapat sebuah tempat tidur kuno dari besi, wastafel, dan papan foto-foto pesawat tempur Jepang. Terdapat pula papan yang bertuliskan proses penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang dalam bahasa Jepang dan Belanda. Kemudian di ruang belakang terdapat sebuah ruangan bekas kamar mandi dan dapur. Di beranda belakang rumah terhampar halaman luas, dari pintu belakang terdapat jalan berlantai dan beratap sirap menuju ke bangunan pada sisi kiri halaman.

Jangan lupa kunjungi juga Tugu Kinoshita atau Monumen Sejarah Tentara Jepang. Di tempat ini pula setiap bulan September mantan tentara jepang ataupun keluarganya melakukan ritus doa bersama. Di lokasi ini bersemayam Sersan Kinoshita meninggal saat pertempuran melawan Belanda.

Selain mantan para prajurit Jepang dan keluarganya yang secara rutin berkunjung, sejak diresmikan 21 Juli 1986, untuk sekadar mengenang terhadap peristiwa bersejarah itu, para pelaku perjuangan kemerdekaan tanah air kembali terkenang. Semisal yang selama ini dilakukan Yayasan 19 September 1945 dan Yayasan Ermelo 96 sebagai paguyuban para pelaku perjuangan kemerdekaan.

Belakangan, Rumah Sejarah dan Museum Amerta Dirgantara Mandala Suryadarma, Kalijati, Kab. Subang, Jawa Barat, menjadi salah satu objek tujuan wisata sejarah tidak hanya bagi para mantan prajurit Jepang maupun para pejuang, tetapi juga bagi siswa-siswa sekolah untuk studi tur dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas bahkan mahasiswa. Wisata sejarah kini bukan lagi menjadi wisata pendidikan ataupun wisata alternatif, tetapi memang wisata yang mengasyikkan.

Selain jaraknya yang hanya sekitar 48 kilometer dari Kota Bandung atau sekitar 10 kilometer dari Kota Subang, untuk mencapai lokasi sangat mudah. Sepanjang perjalanan pun banyak pemandangan yang dapat dinikmati. (Retno HY/"PR")***






CAPOLAGA ADVENTURE

Capolaga Adventure Camp is an eco-tourism that is located in Cicadas Village, Panaruban, the Sagalaherang Subdistrict. Capolaga Adventure Camp had the beauty of the unique Cimuja river ecosystem such as the Cimuja waterfall, the Karembong waterfall and the Sawer waterfall. This place is also supported by many facilities for outbound activities, outing, family or company gathering, adventure activities, tracking, tea walk, camping ground and fishing.

The distance from Subang – Capolaga Adventure Camp is 35 km or 45 minutes, from Jakarta to Capolaga Adventure Camp (via Sadang toll road) is 190 km or 3 hours, from Bandung to Capolaga Adventure Camp is 45 km or 1.5 hours, from Ciater to Capolaga Adventure Camp is 5 km or 15 minutes, from crater to Capolaga Advanture Camp is 13 km or 25 minutes.

Saung di Capolaga, Subang

JIKA Anda ingin menikmati sisi lain kawasan Bandung, sesekali arahkan kemudi Anda ke Bandung Utara. Usai melintas kawasan Lembang dan Tangkubanparahu yang teduh dengan pohon cemaranya yang menjulang, Anda akan menemui kawasan wisata Ciater.

Di titik pertigaan antara Bandung, Ciater, dan Desa Cicadas Kab. Subang, Anda jangan berbelok ke kanan, tetapi berbeloklah ke kiri (ke arah Desa Cicadas). Sepuluh menit kemudian, Anda akan menemui kawasan wisata alam "Capolaga Adventure Camp".

Di kawasan ini Anda tidak hanya akan menikmati kebun teh yang menghijau atau alam pegunungan yang segar, tetapi juga berbagai objek wisata yang sudah dikemas sedemikian rupa. Mulai dari kawasan camping ground, air terjun, sungai, flying fox, tracking, bird watching, sampai ke agrowisata kebun sayuran dan buah organik.

Kawasan wisata alam Capolaga sebenarnya terdapat di Kab. Subang. Tepatnya di Kampung Panaruban, Desa Cicadas, Kec. Sagalaherang, Kab. Subang, Jawa Barat. Namun karena kawasan ini berada tepat di perbatasan Kab. Bandung, waktu tempuh ke kawasan ini tidak terlalu lama. Anda hanya akan menempuh waktu 1 jam dari arah Bandung, 1 jam dari Purwakarta, 30 menit dari Kota Subang, 30 menit dari Lembang, dan 15 menit dari Sagalaherang.

Kawasan ini memiliki keindahan ekosistem Sungai Cimuja dan Sungai Cikoneng yang menghadirkan 4 air terjun unik. Keempat air terjun itu adalah Air Terjun Cimuja, Air Terjun Karembong, Air Terjun Sawer, dan Air Terjun Doa Badak. Keempat air terjun inilah yang menjadi daya tarik kawasan perkemahan Capolaga.

Starting point masuk kawasan ini dimulai dari pintu masuk Capolaga Adventure Camp. Di tempat ini Anda bisa membayar biaya masuk terlebih dahulu dan mendapatkan kantong keresek. Buat apa? Mungkin itulah pertanyaan yang muncul. Bukankah dengan kawasan alam yang segar pengunjung tidak akan mabuk atau muntah?

Eits...tunggu dulu! Ini kawasan reservasi bung! Kalau Anda ingin masuk dan menikmatinya, tidak boleh buang sampah sembarangan. Kantong keresek itulah yang menjadi tempat sampah mobile agar pengunjung tidak membuang sampah di mana-mana.

"Kita memang tidak menyediakan tempat sampah karena cara itu akan menambah pekerjaan bagi pengelola. Bukan karena malas, tetapi justru untuk mendidik kita semua untuk tidak membuang sampah sembarangan," ujar H.M. Tjetje Suhana, Direktur Capolaga Adventure Camp.

Sebenarnya, ada dua jenis pengunjung yang datang ke kawasan ini. Pengunjung yang datang hanya untuk menikmati alam dan air terjun serta pengunjung yang datang untuk menginap. Pengunjung jenis kedua biasanya sudah melakukan reservasi terlebih dahulu karena biasanya rombongan dan menginap, sedangkan pengunjung pertama bisa datang langsung saat itu juga.

Pengunjung rombongan berasal dari berbagai kalangan, ada mahasiswa yang akan melakukan pengamatan alam, burung, ataupun sungai, karyawan perusahaan yang akan outbound ataupun outing; sampai ke rombongan ibu-ibu PKK ataupun darma wanita yang ingin melihat kebun sayur/buah organik. Sementara itu, untuk pengunjung perorangan, ada juga lho yang datang karena ingin meraup tuah dari air terjun.

Para pengunjung yang menginap, bisa bermalam di bawah tenda di blok-blok perkemahan yang tersedia. Blok ini disesuaikan dengan posisi air terjun, ada blok Cimuja, blok Karembong, blok Sawer, dan blok Goa Badak. Satu blok perkemahan dapat menampung 50 orang dengan tarif tiap orang Rp 7.500,00 per malam.

Sementara itu, pengunjung yang tidak mau menginap di tenda, dapat menyewa pesanggrahan ataupun vila yang disediakan pengelola. Tarifnya berkisar Rp 350.000,00 sampai Rp 1.250.000,00 dan dapat menampung cukup banyak orang.

**

KEISTIMEWAAN kawasan ini terletak pada keempat air terjunnya. Air terjun (curug dalam bahasa Sunda) pertama adalah Curug Cimuja. Curug ini terletak di kawasan paling hulu. Konon, menurut Tjetje, pada zaman dulu curug ini sering digunakan untuk memuja dan bersemedi memohon sesuatu.

Curug Ci Muja, Capolaga, Subang

Pemujaan biasanya dilakukan pada malam hari dan bila sang pemuja sudah selesai menyampaikan doa-doanya, ia harus mandi pada malam hari di bawah tumpahan curug ini. "Tapi sekarang juga ada lho yang sengaja datang untuk melakukan semedi seperti itu," ujar Tjetje.

Curug Karembong, Capolaga, Subang

Curug kedua adalah Curug Karembong. Sesuai namanya, curug ini menyerupai karembong (selendang) yang "dikebutkan". Derai airnya yang khas dapat dimanfaatkan untuk water teraphy. Bagi Anda yang sering pegal linu dan rematik, dapat mencoba keampuhan Curug Karembong ini.

Curug berikutnya adalah Curug Sawer. Curug ini tinggi hanya 5 meter. Akan tetapi kalau airnya sedang besar, curug ini menyerupai bunga yang ditaburkan. "Makanya, namanya pun Curug Sawer. Sawer dalam bahasa Sunda kan bisa diartikan tabur bunga," kata Tjetje.

Di bawah tumpahan Curug Sawer terdapat kolam berukuran lebar. Anda bisa mandi di tempat ini. Namun sayang, Anda tidak diperkenankan menggunakan sabun mandi. Tujuannya tiada lain agar ekosistem di kawasan curug tersebut tidak terganggu.

"Kalau mau pakai sabun atau sampo, mandinya di kamar mandi yang sudah disediakan saja," unkap Tjetje seraya menambahkan, mandi di bawah curug ini bisa dilakukan dengan menggunakan dedaunan. Asyik ya, jadi kayak Tarzan!

Curug Goa Badak, Capolaga, Subang

Curug yang terakhir adalah Curug Goa Badak. Di tempat ini Anda bukan hanya dapat menikmati keindahan curug setinggi 8 meter, tetapi juga kolam untuk berenang dan gua. Entah karena apa gua ini disebut gua badak. Akan tetapi, posisinya yang berada tepat di sebelah air terjun membuat gua ini cukup menarik.

Jarak tempuh antar-curug yang satu dengan lainnya, berbeda. Jarak antara Curug Cimuja dan Curug Karembong lebih kurang 250 meter, Curug Karembong-Curug Sawer lebih kurang 250 meter, Curug Sawer-Curug Goa Badak lebih kurang 550 meter. Jadi, jika Anda menyambangi keempat curug tersebut, Anda sudah berjalan lebih kurang 1.250 meter!

Meski jarak tempuh ini lumayan, Anda tidak akan merasa kelelahan. Udaranya yang segar dengan pepohonan hutan yang memayungi, Anda bisa terus dibuat penasaran untuk menuntaskan kunjungan ini sampai di Curug Goa Badak. Apalagi, di setiap curug Anda dapat rehat dulu sebentar sambil menikmati keindahan dan keistimewaan masing-masing curug.

**

JUMLAH kunjungan terbanyak, kata Tjetje, terjadi setiap akhir pekan. Waktu terlama menginap, pada umumnya 3 sampai 5 hari. Untuk perusahaan-perusahaan yang melakukan outbound ataupun outing dapat membawa konsumsi sendiri ataupun memesan kepada pengelola.

Begitu juga bagi pengunjung perorangan atau keluarga. Bila memang tidak sempat membawa makanan dapat memesan makanan ke tempat pengelola. "Untuk minuman dan makanan ringan, selalu tersedia. Tetapi untuk permintaan makan bagi keluarga, biasanya harus pesan terlebih dahulu," ujar Tjetje menerangkan.

Sisi lain yang dapat Anda kunjungi adalah lahan sayur/buah organik yang dikembangkan Kandaga Organic. Lahan yang dikelola Nick Djatnika & Sari Koeswoyo dan rekan ini ditanami berbagai jenis sayuran dan buah organik. Aneka selada benih impor seperti red bowl salad, raddiccho rossa de treviso, pandero, lettuce, spinach, dll dapat Anda temui di tempat ini.

Kalau kebetulan sedang panen, Anda dapat membawanya pulang. "Lumayan, kalau buah di kebun biasanya lebih murah. Padahal, ini sayuran organik lho. Dikembangkannya tidak menggunakan pestisida," ujar Nick.

Kebun organik ini, menurut rencana akan dikembangkan lebih jauh sebagai kebun pembelajaran yang bersifat ecotourism.

Kawasan lain yang menarik dan berdekatan dengan Capolaga adalah kawasan penangkaran kupu-kupu. Tempatnya terletak tepat di depan Capolaga. (Eriyanti/"PR")***